PELATIHAN PENGGUNAAN ROBOT SAR UNTUK MONITORING TEKANAN DARAH ANAK AUTISM

Penulis

  • Dwi Ramadhani Politeknik Negeri Sriwijaya
  • Ekawati Prihatini Polsri
  • Faisal Damsi Polsri
  • Yessi Marniati Polsri
  • Selamat Muslimin Polsri
  • Nyayu Latifah Husni Polsri
  • M. Daffa Ramadhan Husni Polsri

Kata Kunci:

Autism Spectrum Disorder, Socially Assistive Robot, Anxiety, Blood Pressure Sensor

Abstrak

Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah kondisi neurologis perkembangan yang ditandai dengan hambatan dalam komunikasi sosial serta perilaku repetitif dan restriktif. Di Indonesia, terdapat sekitar 2,4 juta individu dengan ASD, dengan tambahan sekitar 500 kasus baru setiap tahunnya. Kecemasan merupakan masalah yang umum dialami anak dengan ASD, namun sering kali tidak terdeteksi karena keterbatasan mereka dalam mengekspresikan emosi. Untuk mengatasi hal tersebut, Socially Assistive Robot (SAR) dengan sensor tekanan darah dapat digunakan untuk memantau tingkat kecemasan melalui tanda-tanda vital, khususnya tekanan darah, sebagai metode tidak langsung dalam mendeteksi kecemasan. Yayasan Gentaralam SLB Autis di Sumatera Selatan memberikan dukungan penting bagi anak-anak dengan autisme, dan kegiatan ini bertujuan memperkenalkan robot SAR sebagai alat bantu dalam perawatan. Robot tersebut berfungsi sebagai sarana non-farmakologis untuk membantu mengidentifikasi dan mengelola kecemasan pada anak. Dengan desain yang memungkinkan interaksi sosial, robot SAR dapat memantau kecemasan melalui pengukuran respons fisiologis, sehingga memberikan metode penilaian yang tidak invasif namun efektif. Keberhasilan penggunaan robot SAR dalam mendeteksi tingkat kecemasan anak autis bergantung pada berbagai faktor, termasuk tingkat keparahan autisme, lingkungan penggunaan, serta kondisi emosional anak selama interaksi.

Referensi

[1] M. C. Lai, M. V. Lombardo, and S. Baron-Cohen, “Autism,” Lancet, vol. 383, no. 9920, pp. 896–910, 2014, doi: 10.1016/S0140-6736(13)61539-1.

[2] S. R. Sharma, X. Gonda, and F. I. Tarazi, “Autism Spectrum Disorder: Classification, diagnosis and therapy,” Pharmacol. Ther., vol. 190, pp. 91–104, 2018, doi: 10.1016/j.pharmthera.2018.05.007.

[3] A. N. Al Ansori, “1 dari 160 anak di dunia menyandang autisme,” 2022. .

[4] F.-M. UGM, “Kenali Autisme sejak dini,” 2019. .

[5] J. Sutanto, “Dukungan Sosial Keluarga Terhadap Anak Autis,” 2017.

[6] R. Sa’diyah, “PENGEMBANGAN INSTRUMEN KECERDASAN EMOSIONAL ANAK USIA DINI,” Progres. J. Pemikir. dan Pendidik. Islam, vol. 7, no. 1, p. 44, Jul. 2018, doi: 10.22219/progresiva.v7i1.7406.

[7] J. Penelitian dan Pembelajaran Fisika Indonesia, M. Zuhdi, J. Ardhuha, M. Taufik, and P. Studi Pendidikan Fisika, “Keunggulan Pengukuran Tekanan Darah Menggunakan Tensimeter Digital Dibandingkan dengan Tensimeter Pegas,” 2020.

Unduhan

Diterbitkan

2024-07-20

Artikel Serupa

1 2 3 > >> 

Anda juga bisa Mulai pencarian similarity tingkat lanjut untuk artikel ini.